Rumah Pelangi, Gudangnya Senyum,Semangat, dan Ceria
Posted by Lusi Gasela
on Sunday, March 2, 2014
0
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bandung
dipenuhi segudang kreatifitas didalamnya. Anak-anak yang kreatif dan
inovatif banyak terlahir di kota kembang ini. Namun kebanyakan dari
orang tua mereka lebih menginginkan anak-anaknya belajar dan pintar di
sekolah saja, tanpa melirik ada segudang potensi yang dimiliki anak-anak
mereka. Padahal jika ditilik lebih jauh lagi mereka mempunyai
bakat-bakat luar biasa dibandingkan harus pintar saja di sekolah.
Karna
yang namanya pintar tidak harus disekolah saja bahkan ada pula anak yang
lebih kreatif dan inovatif ketika berada diluar ruangan sekolah. Rumah
pelangi terinspirasi akan pentingnya ruang bermain dan belajar bagi
anak-anak. Masa kanak-kanak merupakan masa pertumbuhan dan pembelajaran
yang pesat. Pengalaman yang diperoleh seorang anak pada masa ini
memiliki dampak yang besar terhadap perkembangannya di masa depan.
Anak-anak tentunya akan jenuh dengan rutinitas yang setiap harinya diisi
dengan belajar di sekolah. Mereka butuh mengexplore kemampuan mereka
dalam bidang lain.
Rumah Pelangi terbentuk pada 6 Januari 2012. Di
Bandung tepatnya di Desa.Sindang Sari, Kec.Manggahang, Kab.Bandung dan
didirikan oleh 2 orang yang bernama, Asep Suhendar S, dan
Rendypriansyah.
Berangkat dari kegagalan mereka mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri(SNMPTN). Mereka pun down berat, akan tetapi mereka tak ingin terus berlarut-larut dalam keadaan seperti itu. Mereka harus bangkit dari keterpurukan itu. Asep, dan Rendy memutar otak bagaimana caranya agar mereka memiliki kegiatan dari pada menjadi seorang pengangguran yang tak berguna.
Mereka mencari kegiatan-kegiatan dengan menjadi aktifis dan aktif di suatu komunitas rumah belajar “Rumah Mentari” yang bertempat di Dago Atas,Bandung. Setelah hampir 2 bulan berinteraksi dengan anak-anak “Dari situ saya merasakan sesuatu yang berbeda pada diri saya saat berkecimpung dengan anak-anak” ujar asep
Meskipun jarak tempuh dari rumah nya menuju Rumah Mentari lumayan jauh, ia tetap nekat untuk terus berkunjung dan memberikan pengajaran disana. Karena itu sesuai keinginan dari dasar hati. Bahkan keluarganya pun tak mendukung sama sekali apa yang dilakukan asep dan ber-argumen “Ngapain jauh-jauh kesana, gada gunanya, dan habis-habisin uang juga kan?”. ia tidak pernah menggubris omongan-omongan yang akan menghentikan langkahnya, karna di sisi lain ada suatu kepuasan dari batinnya.
Dia merasakan menjadi seseorang yang berbeda ketika bergaul bersama anak-anak, dari situ ia berfikiran, “kenapa sih, saya harus jauh-jauh untuk mengajarkan anak-anak, mengapa tidak dimulai dari kampung saya sendiri?”ujar Asep
Meski usia para pendirinya masih cenderung muda rata-rata kini menginjak (19th). Namun sifat solidaritas dan sosialismenya bisa mengalahkan keterbatasan mereka yang belum dikaruniai kesempatan untuk duduk di bangku perkuliahan. Dan mampu mewujudkan suatu Komunitas Rumah berlajar yang bermanfaat bagi anak-anak desa Sindang Sari ini.
Beruntung, ketika nengara ini masih disibukkan dengan berbagai problematika tentang anak-anak yang rusak moralnya karna dampak dari gencarnya teknologi yang semakin hari semakin canggih dan berdampak pada anak-anak sehingga menjerumuskan anak-anak ke dunia kriminalitas. Masih ada elemen-elemen dari masyarakat yang ingin memperbaiki generasi muda dan mencoba terjun langsung membantu sesuai kekuatan mereka. Untuk menghasilkan anak-anak yang lebih kreatif dan inovatif.
Kegiatan-Kegiatan
Sebelum memulai belajar, berkarya, dan bermain tak lupa anak-anak berdoa dahulu dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Setelah itu mereka melakukan Ice Breaking kuang lebih selama 10 menit untuk mencairkan suasana. Kemudian memberikan misi kepada anak-anak yaitu :
o Bertanggung Jawab
o Saling memaafkan dan meminta maaf atas segala kesalahan disengaja maupun tidak disengaja
o Menyayangi dan menghargai orang lain, termasuk teman-temannya
o Menghormati, dan mematuhi Orang Tua.
Sebelum memulai kegiatan. Kakak-kakak nya terlebih dahulu yang memberi contoh kepada anak-anak. Pemahaman yang kami dapatkan, kami terapkan dan kembangkan kepada anak-anak. Walaupun sederhana anak-anak pun mulai untuk belajar, berkarya, dan bermain.
Anak-anak yang belajar di rumah pelangi mencapai hingga 120 anak, Fantastis bukan ?. Namun ya begitu yang namanya anak-anak ada rasa jenuhnya, terkadang hadir dan tidak. Meskipun tidak tertampung semuanya dalam satu ruangan, kami memanfaatkan ruangan yang ada. Jadi ada sebagian yang bermain kesawah, ada yang main dihalaman depan, dan sebagian ada yang belajar didalam rumah. Jadi kami bagi-bagi tugas saja untuk mengelola anak-anak.
Dan ada juga sebagian anak-anak yang belajar menggambar dan diajak berimajinasi. Karna jumlahnya yang lumayan banyak, para pengajar pun dibagi-bagi sesuai minat anak-anak yang ingin menggali potensinya. Mereka belajar dibagi-bagi, karena keterbatasan tempat yang mereka miliki. Namun semua itu bukan menjadi hambatan mereka untuk terus berkarya dan menggali potensi diri. Mereka terus semangat dalam melawati hari-hari mereka di Rumah Pelangi.
Mereka memanfaatkan ruang yang ada. Sebelumnya rumah pelangi menumpang ke rumah salah satu pendiri yakni Asep. Akhirnya, Rumah Pelangi ingin mandiri dan memiliki Rumah Belajar sendiri. Berangkat dari dorongan anak-anak juga yang ingin memiliki Rumah Pelangi. Namun, mereka sadar akan keterbatasan yang mereka miliki, mereka tidak memiliki biaya yang cukup untuk mendirikan rumah pelangi. Dan hingga sat ini belum ada donatur yang membiayai kegiatan kami.
Dan akhirnya anak-anak pun rela untuk menyisihkan sebagian uang jajannya selama 3 bulan demi untuk mewujudkan impian mereka membangun Rumah Pelangi. Dan sebagian lagi dari hasil patungan para pendiri. Alhasil, bertepatan dengan jatuhnya hari Kartini 21 april 2013, mereka resmi pindah pertama kali ke Pondok Rumah Pelangi yang mereka impikan.
Untuk pengajaran, rumah pelangi menjadwalkan setiap hari Minggu pukul 15.00-17.00 wib. Bertempat di rumah panggung dengan bilik-bilik. Di tempat pengajaran itu ada perpustakaan seadanya dan sumbangan dari Rumah Mentari, ka Puti. Meskipun tempat yang mereka tempati terkesan jauh dari kelayakan. Itu semua tak mematahkan semangat mereka untuk terus belajar, dan berkarya. Yang penting bagi mereka, mereka dapat berbagi pengalaman, dapat bermain sambil menggali potensi yang mereka miliki dibidang lain.
Itulah seputar informasi tentang Rumah Pelangi, yang membuat belajar itu lebih menyenangkan, dan memandang dunia dengan lebih ceria. Rumah pelangi lebih mengedepankan kepada belajar sambil bermain dan mengasah kreatifitas para anak-anak.dan menjadikan anak-anak bangga akan hasil yang mereka buat sendiri.
Untuk kalian, anak-anak muda yang ingin gabung ke komunitas ini, atau ingin berkunjung sekalian memberikan pengajaran kepada anak-anak di Rumah Pelangi, bisa follow Twitter @asepsuhendars atau follow komunitasnya di @rumahpelangiii .
Dari pada waktu senggang kalian diisi dengan hal-hal yang tidak berguna, yuk gabung di komunitas ini dan temukan pengalaman baru. Hidup itu penuh warna seperti pelangi yang selalu memberikan keceriaan kepada seluruh umat manusia. Salam senyum semangat dan ceria
Tagged as: Features
About the Author
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Jurnalistik
Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung (1211405080)
Get Updates
Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.
Share This Post
Related posts


0 comments: