Sate Pepes di Rumah Pelangi

Posted by Lusi Gasela on Sunday, March 9, 2014 0


Sudah menjadi rahasia umum bahwa kota Bandung dipenuhi segudang kreatifitas didalamnya. Anak-anak yang kreatif dan inovatif banyak terlahir di kota kembang ini. Bandung dikenal sebagai  kota dengan segudang kreatifitas. Banyak komunitas-komunitas kreatif yang lahir dari kota ini. Dari mulai komunitas belajar, komunitas nongkrong bareng, komunitas musik, komunitas olahraga, dan masih banyak lagi. Komunitas itu dibentuk atas dasar hoby yang sama yang disatu padukan dalam suatu wadah untuk menampung minat dan bakat yang sama.

Di Bandung penulis menemukan salah satu komunitas peduli sosial atau rumah belajar yang terletak di kampung terpencil, yakni kampung Sindangsari, kelurahan manggahang, kecamatan Baleendah, Kab.Bandung. yang bernama “Rumah Pelangi”. Rumah pelangi terinspirasi akan pentingnya ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Masa kanak-kanak merupakan masa pertumbuhan dan pembelajaran yang pesat.

Pengalaman yang diperoleh seorang anak pada masa ini memiliki dampak yang besar terhadap perkembangannya di masa depan. Anak-anak tentunya akan jenuh dengan rutinitas yang setiap harinya diisi dengan belajar di sekolah. Mereka butuh mengexplore kemampuan mereka dalam bidang lain. Rumah pelangi adalah pendidikan alternatif, sanggar atau wadah belajar yang dilandasi dengan kreatifitas seseorang atau anak didik agar lebih baik dalam belajar.

Disini anak-anak bukan hanya belajar dalam bidang akademik saja, mereka belajar tentang keterampilan, belajar tentang kehidupan, belajar peduli lingkungan. Belajar menghargai orang lain serta mengaplikasikan suasana belajar dengan penyampaian sambil bermaindan santai namun mengasah otak. Disini juga mereka  belajar tentang bersosial yang baik.

Miris jika mengingat pada zaman yang serba canggih ini bersosialisasi dengan antar sesama sudah mulai terkikis dengan hadirnya teknologi pendukung “Sosial Media” sehingga anak-anak di zaman sekarang ini malah lebih asik berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka lebih sibuk dengan gadget mereka sendiri. Rumah Pelangi dibentuk atas suatu visi “mengembangkan potensi kecerdasan anak dan meningkatkan kreatifitas anak”.

Rumah pelangi berupaya menjadi wadah belajar bagi anak-anak yang ingin menggali potensinya di bidang lain. Disamping kewajiban mereka yang dituntut untuk belajar formal di sekolah. Diawal tahun 2014 ini, Rumah pelangi membuat gebrakan melalui suatu acara, dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan keberadaan Rumah Pelangi pada masyarakat luas, sekaligus untuk memperingati dua tahun berdirinya Rumah Pelangi, rumah pelangi lahir pada 6 januari 2012, namun acara hari peringatannya diselenggarakan pada 12 januari 2014 dan bertempat di desa manggahang, yang jatuh pada hari minggu kemarin.

Acara tersebut diberi nama “Sate Pepes” (Show And Talent Pameran dan Pentas Seni) sono kaulinan barudak baheula (Rindu permainan anak-anak zaman dahulu). Merupakan suatu acara yang berkaitan dengan Budaya Sunda. Acara ini merupakan bentuk apresiasi para kakak-kakak relawan Rumah Pelangi kepada anak-anak yang selama ini sudah mengemban ilmu di Rumah Pelangi.

Dan merupakan bentuk kepedulian terhadap permainan-permainan tradisional Jawa Barat pada zaman dahulu. Serta bukan hanya permainan-permainan zaman dahulu saja yang ditampilkan disini, di acara ini juga menyediakan kuliner-kuliner Jawa Barat zaman dahulu, dengan tujuan mengingatkan kembali pada masyarakat bahwa kuliner-kuliner zaman dahulu tidak akan pernah hilang dimakan zaman.




Sate Pepes ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi anak-anak terhadap karya seni, meningkatkan apresiasi anak terhadap karya seni, memberikan motivasi kepada anak-anak dalam meningkatkan prestasi dan membudayakan permainan zaman dahulu dan budaya lokal. Serta membangun kebanggaan akan budaya Sunda sendiri dari segi kuliner maupun segi kebudayaannya agar tidak hilang dimakan zaman ataupun di kalim oleh Negara lain.

Rangkaian acaranya dimulai dengan penyambutan tamu undangan melalui upacara adat Lengser, dengan ditampilkannya tarian merak, serta diiringi oleh alunan lagu Kecapi Raga (Raga Percussion). Dibulan januari yang siklusnya sedang memasuki musim hujan, tentunya hujan deras pun mengguyur kampung Sindangsari ini, sehingga menyebabkan terhambatnya jadwal acara yang telah ditetapkan.

Bukan itu saja lapangan yang akan digunakan upacara adat digenangi air, hingga banjir,  setelah hujan agak mereda upacara adat dimulai, meskipun dalam keadaan hujan gerimis serta banjir yang menggenangi lapangan, tidak mengalahkan semangat anak-anak untuk tampil menghibur penonton serta tamu yang sudah hadir. Setelah upacara adat selesai dilanjutkan dengan sambutan Ketua pelaksana yakni Asep Suhendar yang juga sebagai pendiri Rumah Pelangi.

"Tahun kemarin kita mengexplore kota dengan mengunjungi beberapa tempat di kota bandung termasuk museum Geologi, bandung. Untuk tahun ini kita ingin lebih memperkenalkan Rumah Pelangi pada masyarakat luas, dan untuk tahun depan kita akan memberikan kejutan lain untuk menyambut ulang tahun Rumah Pelangi yang selanjutnya" Ujar Asep saat dalam Sambutannya.

Dilanjut dengan menyanyikan lagu "sabilulungan" lagu tradisional Jawa Barat oleh kelompok anak-anak yang tergabung dalam "Rampak Sekar". Apa itu rampak sekar ?. Menurut sejarah arti "rampak" itu serempak atau bersama-sama. Sedangkan "sekar" memiliki arti bernyanyi. Jadi dapat kita simpulkan Rampak Sekar itu adalah Bernyanyi secara bersama-sama.

Dilanjut dengan pembacaan puisi-puisi karya anak-anak, kemudian dilanjutkan dengan menampilkan Kaulinan Barudak Baheula (permainan anak zaman dahulu). Melalui ini kami mengajak anak-anak mencintai permainan zaman dahulu yang pada dasarnya sangat unik dan memiliki manfaat tertentu, baik dari segi kebersamaannya maupun dalam interaksi sosialnya.

Berbeda dengan permainan masa kini yang lebih bertumpu kepada kesenangan individualis. Hal ini dengan tidak sadar mengajarkan anak-anak menjadi egois, hanya mengenal dunianya sendiri, serta berkurangnya rasa peka dan rasa kepedulian terhadap sesama disekelilingnya. Memang dengan kehadiran teknologi yang begitu pesat, selebihnya dapat mendukung kecerdasan anak, namun dari segi sosialisme dengan antar sesama dan segi kreatifitasnya sangat kurang dipupuk, karna dengan teknologi semuanya menjadi serba instan.

Melalui acara Sate Pepes ini kami mencoba mengingatkan kembali permainan tradisional yang sudah mulai dilupakan. "Harapan diadakannya Sate Pepes ini, kita mencoba melestarikan lagi kebudayaan sunda, istilahnya Ngamumule Budaya Sunda" ujar Asep saat diwawancarai, kemarin. Acara ini juga dihadiri oleh beberapa komunitas pendidik lainnya yang ada di kota Bandung. Seperti teman-teman dari Bincang Edukasi, Sahabat Kota, dan Semesterian.

Mereka sangat mengapresiasi serta memotivasi penuh kepada anak-anak maupun para relawan Rumah pelangi. Mereka juga menyadari memang banyak ditemukan kendala-kendala pada saat pelaksanaan, namun mereka memandang bukan dari hal itu, mereka sangat mengapresiasi kegigihan para relawan serta semangat anak-anak yang meskipun dalam keadaan apapun tetap melanjutkan acara.

"Tujuan diadakannya acara ini ya untuk mengenalkan Rumah Pelangi ke masyarakat luas, setiap orang pasti memiliki persepsi yang berbeda masing-masing tentang acara ini, tapi bagi saya pribadi, Sangat luar biasa, saya puas sekali" Ujar Ardi Putra Pratama, selaku bagian Koordinator Lapangan dan Art Director.  
Kesan dari acara Sate Pepes ini "Sangat Luar Biasa" acara ini juga tidak terlepas dari jasa-jasa para relawan yang terus berusaha memberikan yang terbaik demi mensuksesan jalannya acara.

Beruntung, ketika negara ini masih disibukkan dengan berbagai problematika tentang generasi penerus bangsa yang rusak moralnya, karena dampak dari gencarnya teknologi yang semakin hari semakin canggih.
Karena dapat dengan mudahnya mengakses situs-situs terlarang, sehingga menjerumuskan mereka ke jurang kriminalitas.

Ternyata masih ada elemen-elemen dari masyarakat yang ingin memperbaiki generasi muda dan mencoba terjun langsung membantu sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dengan menjadi tenaga pengajar untuk menghasilkan generasi selanjutnya yang lebih baik, terdidik, kreatif serta inovatif.

Oleh :
Lusi Gasela (1211405080)
Ilmu Komunikasi Jurnalistik
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung


Tagged as: , ,
About the Author

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Jurnalistik
Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung (1211405080)

Get Updates

Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.

Share This Post

Related posts

0 comments:

© 2013 Dunia Komunikasi. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.
back to top